Hebatnya Menjadi Guru


Terinspirasi ucapan Imam Budi Utomo, kawan saya yang begitu peduli terhadap kondisi pendidikan di tanah air. Dia mengatakan, “Menjadi pintar bukan hanya soal ilmu dan pengetahuan, namun juga penerapan etika pada setiap individunya.” Saya pun kemudian menggambungkannya dengan kalimat saya sendiri, “Kepandaian mungkin bisa diperoleh di sekolah, tapi seringkali alam dan kehidupan nyata lebih berhasil mengajarkan kebijaksanaan kepada kita”, hingga kalimatnya menjadi “pengetahuan diajarkan di sekolah agar siswa menjadi pandai, sedangkan alam dan kehidupan nyata mengajarkan kita kebijaksanaan dalam hidup”.

Menjadi guru tidaklah mudah, hanya orang pilihan yaitu orang-orang yang memiliki kemampuan mengajar, dan niat yang tulus saja yang dapat menjadi guru yang baik. Guru menurut undang-undang guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Kualitas pendidikan nasional sangat ditentukan oleh guru profesional sebagai salah satu unsur yang memegang peranan penting dalam kemajuan dunia pendidikan bahkan faktor penentu utama proses pendidikan. 

Di masyarakat, seseorang yang berilmu mendapat tempat yang tinggi dan terhormat. Saran, kritikan, anjuran atau larangan yang diucapkannya menjadi rujukan bagi masyarakat dalam mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu. Terlebih lagi jika orang yang dianggap berilmu tersebut memiliki pendidikan formal dan berprofesi sebagai seorang guru maka penghormatan masyarakat pun akan semakin tinggi. Bagi masyarakat, sosok guru adalah personal yang dianggap lebih dibandingkan manusia biasa. Hal ini dilatarbelakangi keyakinan yang melekat di benak masyarakat bahwa seseorang yang berprofesi guru memiliki pengetahuan yang luas dan penuh kebijaksanaan. Contoh nyata dapat dilihat dari hangatnya sambutan masyarakat pedesaan atau daerah terpencil terhadap guru yang ditugaskan di lingkungan mereka. Hal ini dilatarbelakangi besarnya harapan mereka kepada sang guru akan mendidik anak-anak mereka agar memiliki bekal ilmu pengetahuan sehingga kelak menjadi insan yang berguna. 

Beratnya tugas mendidik siswa yang tingkat kemampuan dan minat belajar berbeda, seringkali menyulitkan para guru menggunakan metode yang paling tepat mengelola kelas. Apalagi jika terdapat beberapa peserta didik yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena perilakunya menyebabkan suasana kelas tidak kondusif untuk belajar. Berangkat dari gambaran sekilas tentang tantangan yang dihadapi oleh para guru. Tidak berlebihan jika lahir ungkapan bahwa hanya orang-orang berhati mulia saja yang berminat memilih guru sebagai profesi karena profesi guru tidak sekadar menuntut skill khusus, tetapi juga semangat mengabdi kepada kemanusiaan penuh ketulusan. 

Seorang guru yang tidak memahami konsekuensi dari profesi yang dipilihnya dapat berdampak pada perilakunya yang kurang bertanggung jawab saat menjalankan tugas seperti bersikap masa bodoh terhadap tingkah laku siswa atau kurang memotivasi siswanya untuk maju. Seseorang yang memutuskan menjadi seorang guru sebagai profesi harus terlebih dahulu menyadari beratnya tugas dan tanggung jawab profesi pendidik. Dengan begitu dia secara sadar akan mempersiapkan diri menanggung konsekuensi pilihannya. 

 

Posting Komentar